chit chat with my friend

Siang tadi saya sedang ngobrol – ngobrol dengan teman di kampus saya. Dia adalah orang yang jarang sekali saya ajak ngobrol ,bukan karena tidak ingin , tapi hanya saja saya menganggap dia adalah orang yang kaku dan konservatif , dan juga penganut agama yang taat, hal itu yang kadang membuat saya sering segan untuk mengajak ngobrol ,sekedar ngobrol ringan dan penuh candaan. Kalo diliat sih dia orangnya lurus – lurus aja ,  Selalu penuh dengan optimis. Dan optimis baginya adalah bersyukur. Tapi tampilannya seperti orang kaku yang membosankan dan hanya mentasbihkan diri hanya untuk Tuhan. Setidaknya begitulah penilaian saya tentangnya.

Hal yang kami bahas tadi adalah hal sepele yang mungkin banyak orang lain sering membicarakannya juga , tapi ini menjadi menarik ketika saya mendengar sendiri pandangan dari teman saya ini.

Teman saya seperti yang saya tau adalah seorang yang taat dalam beragama dan hidupnya selalu dengan tatanan rasa syukur yang banyak dipelajarinya. Bahwa segala hal yang baik dan buruk yang terjadi di dunia ada pelakunya. Dan segala hal yang terjadi di dunia ini pasti sepengetahuan dan seijin Tuhan.

 

Hey bro , itu pacarmu sekarang?

Bukan. Hanya kami dekat seperti pacaran. Doakan saja semoga Tuhan mengizinkan.

Bagaimana kita tau Tuhan mengizinkan hal tersebut? ,kataku.

Ya kalo dia tetap baik dengan kita ,dan kita juga tetap suka dengan dia mungkin itu juga sebagai tanda bahwa dia jodoh kita yang terbaik yang diberi Tuhan.

Kemudian saya Tanya lagi, “Bagaimana kalo kalian uda jalani hidup dan ternyata di tengah jalan jadi berantem dan terus bubar?”

Berarti itu bukan jodohku yang terbaik , dan mungkin Tuhan hanya sedang memberi ujian bagiku.

 

Pembicaraan kami yang basi – basi tadi akhirnya bisa menjadi bahas diskusi yang cukup panjang. Saya penasaran tentang pemikirannya tentang Ketuhanan dan apa yang terjadi dalam hidupnya. Dan bagaimana Tuhan berperan dalam hidupnya.

Kemudian saya bertanya padanya,

Apakah kau yakin bahwa jika saat berumah tangga dan kemudian ditengah jalan mengalami masalah hebat yang membuat kalian pada akhirnya harus berpisah , apakah itu karena Tuhan ingin menguji kalian? Apa benar Tuhan yang melakukan itu?

Kemudian dia menjawab dengan tegas, “bahwa jika aku telah melakukan segalanya yang aku bisa untuk mempertahankan rumah tanggaku , tetapi sekuat apapun aku berusaha aku tidak dapat memaksa istri untuk mengikuti apa yang aku kehendaki. Lagi lagi manusia hanya dapat berusaha dan akhirnya Tuhan yang menentukan. Dan jika aku telah berusaha dengan sekeras yang aku bisa , sembari aku juga berdoa kepada Tuhan tentunya , tetapi itu tetap juga tidak dapat memperbaiki keadaan , maka aku pikir bahwa itu salah satu cara Tuhan menyelamatkannya dari kehidupan yang tidak baik dan mengarahkannya kearah yang lebih baik dari itu. Dan aku harus mengikuti itu.”

Kemudian saya bertanya lagi kepadanya ,

Tetapi kalian telah memutuskan menikah , dan saat ingin memutuskan ingin menikah kau berkata bahwa dia adalah orang yang tepat yang telah dipersiapkan Tuhan ? dan lagi jika apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan tidak boleh di pisahkan orang manusia?

Kemudian dia menjawab lagi ,

“Bahwa mungkin saat aku memutuskan untuk menikah, aku berpikir bahwa dia adalah jodoh yang telah dipersiapkan oleh Tuhan , itu adalah pikiran yang salah. Mungkin itu pikiran yang melibatkan emosiku sehingga aku memutuskan begitu. Nah sekarang saat itu telah terlanjur terjadi , dan Tuhan adalah baik dan Dia ingin menyelamatkan saya dari kehidupan rumah tanggaku yang rusak ini. Dan masalah tentang hal yang telah dipersatukan Tuhan tidak bisa dipisahkan oleh manusia, itu jika kasusnya kami menjalani rumah tangga dengan baik, da ada yang ingin memisahkan. Tetapi jika istri telah melakukan hal yang merusak kesucian pernikahan kami , dan mendatangkan rasa malu padaku atau suaminya sendiri , apakah Tuhan akan membiarkan begitu saja? . Maka saya berhak untuk orang yang lebih baik dari dia fon. Dan Tuhan melakukan itu”

 

Berarti bukan Tuhan yang mengujimu dengan pernikahan yang tidak harmonis, tapi kau sendiri yang memutuskan pernikahanmu hanya berdasarkan emosi dan ego bahwa pasanganmu itu adalah pasangan yang di persiapkan Tuhan.

Hmmm , ntahlah fon. Kok malah jadi bahas pernikahan yang rusak gitu. Pacaran dengan dia aja belum masih sekedar dekat aja.

Haha , ntah kenapa kita jadi lari kesana ceritanya.

 

Dan begitulah akhir dari obrolan dengan temanku tadi.

 

Advertisements

One thought on “chit chat with my friend

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s