Sudut pandang seorang atheis..

Pertemuan yang menarik terkadang memang tak terduga datangnya, seperti yang saya alami saya bertemu teman lama di masa SMA dulu. Pertemuan yang tak terduga itu tanpa disangka juga menjadi alasan kami bisa duduk lama mengobrol, berbincang bincang banyak hal , hal dimasa SMA dulu atau hal-hal baru yang lain yang tanpa sadar telah menyita waktu kami dengan seenaknya.

Kisah masa di SMA dulu, masa sekarang hingga materi ekonomi, politik, atau budaya yang menjadi bahan perbincangan banyak orang tak luput kami bahas, bahkan topik agama yang tabu dibahas kami bahas lugas tanpa saling menyinggung sama lain.

Tapi dari banyak topik yang telah kami bahas, topik agama adalah topik yang paling menarik untuk dibahas. Bukan karena kami seorang ahli agama atau apapun itu. Kami hanya suka membahas hal apapun itu sejak di SMA dulu. Dan sebagai informasi teman saya sejak SMA adalah seorang atheis dia mengatakan bahwa dia tidak mengakui bahwa Tuhan2 yang selama ini dipercaya manusia dari ajaran agama, tapi dia percaya ada Tuhan yang menciptakan Semesta. Background itu yang sering memancing saya bertanya banyak hal dengannya terlebih lebih hal yang tentang Ketuhanan.

Dan dari banyak pertanyaan yang saat itu kami obrolkan ada satu pertanyaan saya yang jawabannya sangat menarik dan membuat saya teringat ingat. Bukan karena pertanyaan saya yang hebat, tapi jawabannya yang sangat menarik untuk disimak.

Saya              :  Men, kita tau bahwa ajaran agama yang ada menuntut kejalan yang benar sesuai ajaran masing masing agamanya. Tapi kenapa semakin dia percaya dengan agamanya. Semakin dia menjelekkan agama lain, semakin percaya bahwa agama lain salah. Dan malah sering menyalahkan orang yang menganut agama lain. Bagaimana pendapatmu tentang itu?

Teman saya   : *hehe* sebelum menjawab pertanyaan itu kawan, aku punya cerita yang menarik ini. Disuatu daerah terdapat festival yang diadakan sekali 5 tahun sekali. Karena ini acara 5 tahunan sekali banyak orang yang ingin turut serta dalam acara tersebut. Dan salah satu hal yang membuat festival ini ditunggu tunggu adalah Perlombaan unik mencari batu dari gunung tua yang terdapat di daerah tersebut. Lomba ini adalah lomba mencari batu yang sesuai dengan kriteria yang diberikan panitia, dan siapa yang pertama mendapatkan batu tersebut dialah pemenangnya. Lomba ini selalu bisa menarik banyak peserta untuk ikut berpartisipasi. Yang membuat lomba ini menarik adalah tidak satupun peserta pernah melihat batu tersebut, hanya pihak panitia yang mengetahuinya. Oleh karena itu setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan batu tersebut dan hadiah yang disediakan panitia untuk pemenang sangatlah besar. Panitia memang mengatur bahwa batu yang dicari adalah batu yang belum pernah diliat orang lain, panitia hanya memberi ciri- ciri dari batu yang akan dicari batu tersebut cemerlang, indah dilihat, dan mengkilap.

Perlombaan pun dimulai lokasi gunung tua dimana tempat batu-batu itu bisa ditemukan sangat jauh dari desa, dan hanya bisa di jangkau dengan berjalan kaki, butuh sekitar seminggu untuk mencapai lokasi tersebut.

Singkat cerita, para peserta sudah tiba digunung tua tersebut dan mereka memulai pencarian akan batu yang sesuai dengan kriteria yang diberikan oleh panitia perlombaan cemerlang,indah dilihat, dan mengkilap. Terdapat banyak batu batu indah di gunung tersebut dengan berbagai ukuran dan bentuk. Setelah melakukan pencarian beberapa dari peserta banyak yang telah menemukan batu yang mereka yakini adalah batu yang sesuai dengan yang mereka cari. Beberapa peserta menyakini batu yang sama sebagai batu yang sesuai dengan kriteria panitia. Beberapa peserta lain menyakini batu yang lain yang mereka temukan.

Dengan kriteria yang diberikan oleh panitia, tak pelak membuat banyak fenomena. Ada fenomena dimana satu batu diyakini banyak orang, ada juga satu batu yang diyakini Cuma satu orang, ada juga satu batu yang hanya diyakini beberapa bagian kecil dari peserta.

Setelah mendapat batu yang telah mereka yakini adalah batu yang sesuai dengan batu yang mereka cari, mereka bergegas membawa pulang batu batu tersebut ke desa di mana perlombaan berlangsung untuk menunjukkan kepada panitia.

Dengan adanya fenomena perbedaan batu yang para peserta yakini, tak pelak itu membuat para peserta terkadang saling memuji muji batu yang mereka sendiri adalah batu yang benar dan mengejek batu peserta lain. Ada batu besar yang diangkut banyak peserta yang mereka yakini batu yang benar, ada juga satu peserta yang membawa batuan kecil, ada juga batu yang dibawa oleh sebagian kecil kelompok peserta.

Saat diperjalanan terkadang pemilik batu saling ejek dan saling menyakini, hal tersebut kadang membuat peserta lain emosi karena tak terima , tapi ada juga yang percaya dengan batu yang paling banyak di percaya adalah batu yang benar dan dia mengubah kepercayaannya pada batu itu. Ada juga yang menyakini bahwa batu besar walaupun banyak yang percaya itu benar, bukan berarti itu batu yang sesuai dengan kriteria panitia, sehingga dia membawa batu kecil yang menurutnya memang benar. Begitulah seterusnya banyak hal terjadi.

Teman, apa kau bisa menarik kesimpulan dari cerita yang tadi? Bahwa PESERTA itu ibarat MANUSIA, BATU adalah AGAMA yang manusia percaya, PERJALANAN adalah HIDUP manusia, dan PANITIA adalah TUHAN yang sebenarnya.

Seperti cerita tadi begitu banyak batu yang ditemukan peserta, begitu juga agama di dunia ini begitu banyak. Seperti kasus dimana banyak peserta yang menukar batu yang dia percaya, sama juga di dunia ini banyak manusia menukar agama yang dia percaya, bahkan ada kepercayaan baru yang muncul, dan ada juga kepercayaan yang hilang karena tidak ada lagi yang percaya.

Seperti juga banyaknya peserta yang saling ejek bahwa batu mereka yang benar, begitu juga manusia yang menganut agamanya, semakin dia menyakini bahwa agamanya paling benar, semakin dia menyalahkan agama lain adalah agama yang tidak benar.

TAPI sama seperti perlombaan itu tidak satupun peserta tau mana batu yang benar karena mereka belum mendengar langsung penilaian PANITIA, yang mereka tau hanya ciri-ciri batu yang dicari. Begitu juga halnya agama didunia ini, tidak satupun orang mampu membuktikan agama mana yang paling benar, karena yang manusia tau hanya kriteria dari agama yang baik. Karena sama seperti perlombaan tadi  para peserta masih di perjalanan menuju tempat panitia, begitu juga halnya manusia masih dalam perjalanan hidup.

Oleh karena itu tidak bijak kawan kita hanya memuji agama sendiri tanpa tau bagaimana agama lain dan juga agama sebenarnya yang memang di ajarkan sang pencipta sebenarnya. Sehingga tidak relevan membanding bandingkan agama yang ada.

Kita hanyalah manusia yang tidak tau harus berterima kasih kepada siapa karena telah diciptakan

Tapi ini hanyalah pendapat saya, saya seorang yang tidak mempercayai Tuhan dari satu agama apapun yang ada di dunia.

Advertisements

2 thoughts on “Sudut pandang seorang atheis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s