Menginap di bandara Kualanamu

Kira-kira sebulan lalu aku punya kesempatan untuk jalan-jalan kejogja, kesempatan yang bagus sekali memang karena juga aku belum pernah kesana. Jogja ini adalah salah satu kota yang banyak dibicarakan orang-orang. Topiknya macam-macam,tapi kalo dari yang aku dengar-dengar dari pembicaraan orang, jogja itu dikenal sebagai kota yang romantis.

Apalagi setelah keluarnya film fenomenal AADC2, kota Jogja jadi lebih banyak lagi dibicarain orang-orang. Film yang cukup romantis dengan setting tempat yang cukup romantis pula, paling tidak itu menurutku. Dan aku yakin setidak tidaknya orang yang sudah nonton AADC2 pasti setuju kalau Jogja itu kota yang romantis, eh  gak tau juga deng. Tapi jogja bukan hanya romantisnya aja, ada juga candi Borobudur, kalo di ensiklopedia yang kubaca waktu SD sih masih termasuk 7 keajaiban dunia, gak tahu lagi kalau sekarang. Jogja juga terkenal sebagai kota pendidikan, mungkin karena ada UGM. Tapi ditingkat sekolah juga bagus mungkin. Dan dari sector makanan yang mana ini sector yang aku suka, ada gudeg. Aku yang belum makan langsung aja tau, jelas ini makanan pasti enak makanya bisa terkenal. Itulah jogja dengan banyak kelebihannya sehingga wajar dikasih gelar istimewa. Tapi post kali ini bukan cerita tentang jogja, setidaknya bukan sekarang. Mungkin lain kali.

Yang mau aku ceritakan adalah pengalaman nginap dibandara waktu mau ke jogja, jadi waktu itu sebelum berangkat kejogja aku harus nginap di bandara. Ada beberapa alasan aku harus nginap dibandara salah satunya jadwal penerbangan kejogja. Jadwal penerbanganku waktu itu jam 06.00 pagi yang mana itu penerbangan pertama disitu. Dan yang namanya penerbangan kan harus check-in sejam sebelum penerbangan kan biar gak telat, tapi seharusnya 10 menit sebelum juga masih aman. Tapi ya gitulah aku orang yang taat peraturan. Nah, biar check-innya tepat jam 05.00 pagi, berarti setidaknya aku harus berangkat dari rumah jam 04.00.

Aku harus bangun jam berapa? Belum juga dihitung beres-beresnya pikirku.

Manja? Bukan, bukan, alasannya gak ada kendaraan jam segitu, bus pasti belum ada, naik kereta api. Jauh stasiun dari rumah.

Kalo naik taksi, kasian supir taksinya jam-jam enak tidur itu. Mau minta dianterin, juga gak ada yang mau ngantar masih pada tidur. Banci juga itu baru last order.

Akhirnya nginap dibandara, iya udalah gak apa. Waktu itu hari minggu jam 10 malam aku udah stand by dibandara, pas tiba di bandara liat sana liat sini masih rame orang dalam hati mikir “rame orang kok, setidaknya gak sunyi jadi gak perlu takut.’ Sebenarnya bukan takut, cuma kurang seru aja di bandara luas gini sendirian aja.

Kutenteng tas, terus jalan naik ke lantai atas niat pertama ya pasti nyari tempat nyaman untuk tidur, syukur kalo dapat yang empuk, kalo gak adapun di kursi tunggu juga gak apa kok. Aku bukan orang yang manja.

Sampai diatas beberapa “lapak” uda diambil, ternyata bukan aku aja yang bakal nginap di bandara, dalam hati “yes, ada kawan”.

Akhirnya dapat juga kursi kosong, tapi bukan kursi tunggu yang biasa diduduk orang. Jadi itu ada café yang udah tutup eh rumah makan deng, kursinya empuk karena ada busanya. Terus kususun sejajar beberapa secukupnya tempat aku tidur. Kutidurkan disitu tapi masih sambil main hape balas-balas chat dari cewe-cewe, bukan sok ya tapi ketara sih kalo orang ganteng gimana.

Hapeku berbunyi “tenot tenot.”

Gak gitu juga sih bunyinya, tapi biar tau aja. Tanda kalo baterai hapeku uda mau abis, yodah ambil chargernya dulu biar bisa lanjut chattingan lagi. Kuliat sekeliling nyari tempat colokan listrik, nah itu dia kebetulan letaknya  dilantai pas di bawah kursi yang aku tidurin. Oke lanjut chatting. kuliat jam astaga uda jam 1 lewat dan belum ngantuk, gimana mau tidur?

Yaudah lanjut gak tidur aja lah sekalian. Lagian masih bisa chat-chat seru, sekalian buang waktu. Chat berlanjut dengan beberapa orang lain diujung hapenya masing-masing. Ya cukup berterima kasih juga aku ternyata masih ada orang belum tidur di jam segitu, yang jelas mereka bukan penggemar Rhoma Irama walau kita pasti sering dengar kata bang rhoma “begadang, jangan begadang, kalo tiada artinya.”

Buat yang bertanya aku chat dengan siapa, jawabannya yang pasti dengan cewe cewe, ntah itu siapa. Bukan berarti gak mau chatting dengan cowo ya, tapi kurang bijak aja berlama lama chatting dengan cowo di jam tinggi seperti itu (baca : subuh).

Tapi, songon pandok ni akka sijolo tubu  (baca : kata orang tua dulu dulu). Segala hal yang “dimulai” sebaik apapun itu harus ada bagian “diakhiri”, kira-kira gitulah. Dan itu uda jam 3 pagi dimana semua orang yang tadinya chatting denganku bergantian pamit tidur. Gak semua juga memang, ada yang langsung ketiduran.

Kujawab singkat “iya, good night” kebeberapa yang pamit.

Kupinggirkan hape karena gak tau juga mau ngapain lagi dengannya. Biarkan dia ter charger dengan damai. Dan seketika itu aku baru sadar bandara sudah sunyi gak ada lagi orang orang yang Nampak berlalu lalang, lampu juga uda padam di beberapa bagian bandara yang kuliat.

Dan tetap masih belum ngantuk. Mau ngapain lagi ini kupikir?

Waktu itu jam 3 pagi dan betul sunyi kalo dilantai atas, gak tau dibawah. Dan di tengah tengah sunyi itu aku cuma duduk sambil ngeliat kearah tv yang jauh di ujung lorong. Gak kedengaran suara tvnya, karena memang gak ada suaranya juga tadi pas aku lewat disana.

Karena sunyi itu suara kecil aja langsung kedengaran, contohnya suara pintu dibuka dari ujung lorong yang mungkin itu ruang pegawai, terus suara AC bandara terdengar bunyinya “zzz”, ya gitulah kalo sunyi seakan akan punya telinga super yang bisa dengar suara dari jauh. Ada lagi suara langkah kaki orang dari kejauhan yang perlahan mendekat, kayaknya abang abang ini pake sepatu pantofel dengan sol kayu suaranya nyaring gitu, sombong ini sementang mahal.

Loh, kok aku sok tau gini ya, abangnya juga gak ada lewat.

“shhsshsh”, suara angin terdengar berdesir di tengkuk leherku. Sambil terdengar suara langkah sepatu “ntek, ntek, ntek, ntek”. Tiba tiba suasana berubah seram diiringin alunan piano kunci minor. Oke ini lebay.

Apakah yang terjadi selanjutnya?

*Ceritanya bersambung di post selanjutnya. Biar agak dramatis ceritanya. 😀

Bukan, bukan, biar gak kepanjangan aja dalam satu post.

Advertisements

11 thoughts on “Menginap di bandara Kualanamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s