“Mandok hata” salah satu semarak tahun baru

Hari ini, beberapa hari menjalani tahun 2017. Perayaaan tahun baru 2017 telah usai, banyak orang sudah kembali kerutinitasnya masing-masing seperti ditahun sebelumnya, bedanya ditahun ini ditambah dengan harapan baru. Memang tahun baru selalu membawa semarak tersendiri ntah mengapa semua orang diseluruh dunia kurang lebih pasti merayakan malam pergantian tahun baru. Seakan ada peraturan tak tertulis yang disepakati oleh orang diseluruh dunia bahwasanya tahun baru adalah simbol dan juga ritual adanya harapan baru. Jadi mesti dirayakan.

Perjalanan hidup ditahun sebelumnya yang penuh pengalaman dalam berbagai keadaan, baik dalam keadaan senang, bahagia, sedih, bahkan menyakitkan sekalipun diharapkan bisa berubah lebih baik lagi ditahun berikutnya. Dan tahun baru adalah simbol perubahan itu, harapan dan rencana baru dimana ritual pergantian tahun baru yang tepat pukul 00.00 menjadi titik balik perubahan kearah yang lebih baik lagi di tahun berikutnya. Wajarnya memang dirayakan dengan semarak.

Aktivitas seperti meniup terompet dengan berbagai model, menyalakan kembang api mulai dari ukuran yang kecil sekedar memercikkan kembang api, pas sekali buat anak-anak. Sampai yang kembang api khusus dewasa yang mungkin untuk belinya pun harus nunjukkan KTP apakah udah cukup umur gak. Dan juga sekedar kumpul-kumpul dengan keluarga, kerabat atau teman. Banyak cara dan ritual, begitulah warna warni perayaan tahun baru yang (kurang lebih) sama setiap akhir tahun.

Perbedaan wilayah, keadaan sosial budaya, sampai yang personal sekalipun seperti agama, ras, atau suku turut mempengaruhi cara merayakan pergantian tahun baru tersebut.

Contohnya seperti saya yang beragama Kristen, gak tahu gimana agama yang lainnya, tapi saya percaya yang pasti perayaan pergantian tahun baru diisi dengan kegiatan yang positif. Kalau saya dengan keluarga yang beragama Kristen kami biasanya menyemarakkan tahun baru dengan kembang api juga, dengan meniup terompet juga, kurang lebih ya sama memang. Tapi sebelum melakukan itu kami biasa membuka detik pertama pergantian tahun baru dengan ibadah, jadi kami berkumpul sekeluarga bapak, mamak, adek, kakak, abang, dan biasanya juga ada saudara yang lain kemudian membuka ibadah kecil sekeluarga. Dengan membentangkan tikar,karpet atau apapun yang bisa dijadikan alas duduk, kemudian kami membentuk lingkaran, gak harus sih kadang juga ellips bentuknya, kadang juga jajaran genjang. 😀

Yang pasti mempersiapkan posisi yang pas untuk memulai ibadah dengan khusuk, ibadah nantinya akan dipimpin oleh seseorang yang paling tua disitu. Kenapa kami melakukan ibadah terlebih dahulu?

Ya karena itulah wujud tanda syukur kami karena telah diberkati menjalani tahun sebelumnya dengan baik dan berharap diberi berkah dan anugerah yang lebih besar dan baik lagi ditahun berikutnya. Seperti orang sok religius ya, tapi ya begitulah ritual-ritual keluarga kami.

Bahkan gak hanya ketika pergantian tahun baru, sekitar beberapa jam sebelum jam 00.00 atau beberapa jam sebelum pergantian tahun baru, kami menyambutnya dengan ibadah juga dengan teman seiman yang diadakan digereja. Semacam acara penyambutan tahun baru gitu kan. Kebayang gak gimana religiusnya keluarga kami. Sebegitu spesialnya tahun baru itu kami buat sampai pakai penyambutan. Wew

Tapi keseruan dari penyambutan tahun baru belum selesai disitu, bahkan walau ibadah adalah hal pertama yang dijalani, tapi bukan serimonial itu yang utamanya. Ini ada yang lebih menarik masih bagian dari ibadah juga memang, namanya “mandok hata”. Ini frasa bahasa batak yang artinya mungkin cocok dibilang heart to heart, atau maaf maafan, ya gitulah pokoknya.

Jadi mandok hata itu masih termasuk bagian dari tata acara ibadah tadi, tapi di bagian mandok hata ini, adalah waktu dimana kita anggota keluarga bisa saling maaf maafkan tentang kesalahan kita selama setahun lalu, bisa juga saling mengucapkan selamat tahun baru dan bisa saling memberi doa dan harapan baik untuk tahun kedepan kan, dan kita yang dengar hanya boleh dengar gak bisa dikomentari. Tapi celah ini yang sering dimanfaatkan juga untuk menyinggung hal-hal yang biasanya agak tabu untuk dibicarakan di tempat rame. Hal yang diomongin sebenarnya hal biasa yang gak akan buat tersinggung juga kalo dibicarakan secara pribadi. Tapi rasanya akan berbeda jika diomongin di depan banyak orang, dan mandok hata itu seperti wadahnya. Jadi kita itu bisa sekali ngomong atau nyinggung apa aja di situ, tapi harus takut kena protes atau di potong ditengah jalan pas kalo bicar..

Misalnya waktu itu, ketika mandok hata seorang tua sebut aja begitu sebab banyak keluarga berkumpul disitu, kemudian seorang tua ini mengatakan

“ya tuhan, Cuma satu yang aku tunggu lagi sekarang, anakmu ini kirimlah dia jodoh yang memang cocok dihatinya. Jangan biarkan dia menjadi dia yang sendiri tanpa teman masa hidupnya, aku sudah tua dan mungkin tidak bisa lagi menjadi andalannya didunia, tapi biarlah engkau menjadi andalannya selalu. Oleh sebab itu beri dia jodoh yang terbaik daripadamu itu, jodoh yang bisa membawa kejalan yang daripadamu, bukan yang hanya mampu menyakitinya.”  

Kalau dipikir sih memang itu harapan yang biasa kan, ya harapan seorang ibu kepada anaknya supaya dapat jodoh yang terbaik. Gak ada yang salah jika itu disampaikan pribadi kepada orangnya langsung. Tapi rasanya akan beda ketika itu disampaikan didepan banyak orang, saudara-saudara lain yang kumpul pada hari itu. Ya memang itu saudara dekat, tapi kan bukan orang yang kita jumpai setiap saat, akan merasa agak malu juga pasti. Dan bagi kalian yang baca harapan seorang tua tadi, kalau diperhatikan walau kalian tidak ada ditempat saat itu, pasti tau bahwa artinya tidak seindah kata-katanya.

Misal bagian

“Jangan biarkan dia menjadi dia yang sendiri tanpa teman masa hidupnya, aku sudah tua dan mungkin tidak bisa lagi menjadi andalannya didunia”

Dari sini bisa kita terawang kalau atau bayangkan kalau ini harapan orang tua yang ingin anaknya punya jodoh. Alasannya? Karena orang tua uda tua, dan kalau orang tuanya sudah tua, berarti anaknya juga bisa orang berumur juga sampai diberi harapan begitu. Yang kali bisa kita sederhanakan jadi begini “uda cepat nikah, umurmu uda berapa ini. Mau kapan lagi?”

Terus ada bagian ini

“Oleh sebab itu beri dia jodoh yang terbaik daripadamu itu, jodoh yang bisa membawa kejalan yang daripadamu, bukan yang hanya mampu menyakitinya.”  

Buat kalian yang baca ini, atau kami yang dengar waktu itu bisa mikirnya dua hal, iya seorang tua ini religius karena memyerahkan segala masalah kedalam lingkupan tuhan, tapi ketika dia bilang

“jodoh yang bisa membawa kejalan yang daripadamu, bukan yang hanya mampu menyakitinya.”

Pikiran ini kan melayang kearah lain seperti ini anak yang didoakannya keknya sering disakiti gitu susah dapat jodoh yang baik. Korban PHP. Kan jadi ambigu.

Tapi itulah mandok hata, kami bisa memberi harapan sambil singgung-singgungan kecil didalamnya. Berharap itu doa yang sekalian seruan buat orang yang diomongin biar bergerak juga untuk mencari yang diharapkan. Tak lain tujuan pasti untuk hal yang baik.

Mandok hata itu nanti akan dimulai dari orang yang paling kecil atau orang yang paling muda umurnya, kemudian berlanjut sampai yang tertua. Sehingga bergilir dan semua dapat “jatah” bagian untuk memberi kata kata atau “mandok kata”. Yang biasa semuanya diisi dengan harapan dan doa untuk hal yang baik ditahun yang baru yang mau dijalani itu. Lalu setelah selesai baru ditutup dengan doa dan salam, peluk dan cium sebagai tanda kasih. Itulah keluarga, saling menyinggung, mendoakan, dan menguatkan.

Nah baru setelah semua selesai kami merayakan tahun baru dengan kembang api, ada yang sebagian meniup trompet. Ada juga yang manggang- manggang, setelah makan biasanya juga pergi ketengah kota melihat keramaian. Dan lain sebagainya.

Yang pasti setiap kita merasakan tahun baru sebagai titik balik kearah yang lebih baik, kalau ditahun sebelumnya uda baik, semoga kedepannya jadi lebih baik, atau yang ditahun sebelumnya menjadi tahun yang menyakitkan, semoga ditahun baru ini jadi berubah menjadi baik. Apapun itu semua orang berharap menjadi lebih baik dan dihindarkan dari keburukan.

Akhir kata, sama dengan semua harapan orang termasuk harapan kalian yang membaca. Semoga ditahun ini segala yang baik menjadi kenyataan di tiap-tiap sendi kehidupan kita.

Terima kasih.

Selamat Tahun baru 2017.

 

Advertisements

5 thoughts on ““Mandok hata” salah satu semarak tahun baru

  1. Hidup akan terasa kurang sempurna kalau kita belum menemukan tambatan hati (pasangan)
    Semoga tahun inii dpt terwujud yaa..amin🙏🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s